Colliq Pujie, koleksi Tropen Museum
- iklan -
XRC TIre

COLLIQ PUJIE: PEREMPUAN CERDAS, UNIK DAN PERKASA DARI BUGIS.

sang Penyelamat Naskah La Galigo

Tidak banyak tokoh perempuan yang ”kebetulan” terkenal di Indonesia, terutama dari Timur. Pencatatan sejarah Indonesia, disebabkan berbagai hal, telah menyebabkan peminggiran kiprah perempuan Indonesia terutama dari luar Jawa. Salah satu tokoh dari Timur yang telah melakukan hal-hal luar biasa, Wanita Perkasa dari Sulawesi Selatan yang terlupakan tanpa jasa, ya dialah Colliq Pujie sang penyelamat naskah  La Galigo.

Arung Pancana Toa Retna Kencana Colliq Pujie Matinroe ri Tucae, juga bergelar Datu Tanete, adalah seorang Bangsawan berdarah Bugis Melayu, ia menguasai berbagai bahasa asing bahkan Sastra Bugis Kuno, sosok perempuan cerdas, sastrawan dan intelektual perempuan yang lahir pada 1812 di BarruSulawesi Selatan, beliau wafat pada 11 November 1876, Arung Pancana Toa (Raja Pancana Toa) adalah gelar Kebangsawanannya, Retna Kencana Colliq Pujie (Pucuk yang terpuji),  Matinroe ri Tucae (yang tidur di Tucae) adalah nama beliau ketika sesudah wafat. Menikah dengan La Tanampareq (To Apatorang Arung Ujung), memiliki 3 orang anak yang laki-laki bernama La Makkawaru dan perempuan bernama Siti Aisyah We Tenriolle dan I Gading.

“Dr. Ian Caldwel sejarawan Inggris mengatakan Terlalu kecil kalau seorang sekaliber Colliq Pujie dikurung dalam tempurung Indonesia, ia adalah milik dunia.

Karyanya, epos “I La Galigo” adalah ikon kebudayaan Indonesia yang menjadi kanon sastra dunia yang kemudian menjadi sumber inspirasi banyak orang dalam merekonstruksi sejarah dan kebudayaan Indonesia.

- Iklan -
Ayam Goreng Ternate

Salah satu ikon yang sangat terkait erat dengan Arung Pancana Toa adalah karya sastra La Galigo. Entah apa yang ada di benak Colliq Pujie ketika dia menyetujui permintaan B.F. Matthes, seorang missionaris Belanda, untuk menyalin kembali epos besar Bugis La Galigo tersebut. Nyatanya, salinan ulang tersebut lebih dari seratus tahun kemudian masih terus mencengangkan dunia. Tidak hanya panjang epos yang melebihi Mahabharata ini yang dikulik ahli dari beberapa negara. Colliq Pujie-pun menjadi subyek perbincangan dan penelitian.

Kutipan Surat-surat Matthes yang dikirim kepada NBG (Nederland Bijbelgenoschap) tanggal 7 Mei 1861, tentang Colliq pujie “Yang lebih bermanfaat ialah perkenalanku dengan puterinya, Aroe Pantjana(Colliq Pujie), sekarang seorang janda yang umurnya sekitar 40 tahun. Dia sungguh-sungguh wanita berpengetahuan sastra, yang mengarang surat penting untuk ayahnya. Bukan hanya bahasa kedaton Bone yang dikuasainya, bahkan ia mahir dalam bahasa La Galigo yang kuno yang sekarang tidak digunakan lagi”

Surat yang kedua tentang kondisi Colliq Pujie dalam pengasingan. ” Jika membaca syair kepahlawanan Bugis yang lama, sastra La Galigo yang sering dibicarakan dan menjadi keahlian ratu tersebut (Aroeng Pantjana), saya menemui bahwa dahulu segala sesuatu dibuat dari emas atau dihiasi dengan emas yang banyak. Tetapi harus dikatakan zaman sudah sangat berubah. Ya, saya mau bertaruh bahwa kalau anda dengan pukulan tongkat sihir ditempatkan di istana teman bugis saya ini, anda tidak berpendapat itu sebuah istana, tapi sebuah kandang babi. Ya, juga hampir anda tidak berani makan sesuatu dari makanannya yang enak. Untung akhirnya bisa menyesuaikan diri dengan segala sesuatu, tetapi tidak menyenangkan hidup diantara pribumi senantisa”

Tak hanya Matthes, Colliq Pujie juga membantu Ida Pfeiffer seorang etnolog dari Austria yang mengadakan penelitian di Sulawesi Selatan pada tahun 1853, Colliq Pujie juga membantu A Lighvoed seorang peneliti asing yang ingin menyusun catatan peristiwa sejarah di Sulawesi Selatan pada tahun 1870. Sebagai penulis sejarah Kerajaan Tanete (dalam Naskah Lontaraqna Tanete), Colliq pujie bercerita seputar kehidupan istana dan raja-raja Tanete terdahulu. Mulai dari raja Tanete pertama sampai raja ke-20. Setiap tokoh diceritakan detail mulai dari kelahiran, romansa percintaan hingga ke perkawinan. Colliq Pujie sebagai penyalin La Toa, La Toa adalah sejenis lontaraq dari Tana Bone. Penulisan Lontaraq La Toa di duga mulai pada masa raja Bone VII yang bernama La Tenrirawe Bongkangnge (1560-1578), La Toa dijadikan sebagai tuntunan bagi penguasa, terutama dalam menjalankan pemerintahan dan melaksanakan peradilan.

Sebagai seorang sastrawan, sejarahwan sekaligus ilmuwan, Colliq Pujie juga menghasilkan berbagai macam karya diantaranya Lontarqna Tanete (Sejarah Kerajaan Tanete, tahun 1852), Naskah ini di cetak dan di terbitkan oleh G. K. Niemen dengan judul Geschiedenis van Tanette, Kemudian Beliau juga menulis Sureq Baweng, ada banyak karya Colliq Pujie yg berupa Pantun, Syair, naskah kebudayaan dan upacara adat Bugis, Karya-karya nya tersimpan di beberapa Museum dan Perpustakaan di Leiden, Belanda serta tersimpan juga di Yayasan Matthes Makasar.

Colliq Puji memiliki banyak kemampuan, kecerdasan emosional dalam memilah persoalan dan mengambil keputusan misalnya, begitu nampak saat cucu Syahbandar terkaya di Sulawesi Selatan tersebut bisa menyikapi “si kulit putih” (Tau Pute) pada saat yang tepat. Sikapnya tegas dan menunjukkan perlawanan ketika dia melihat Belanda sebagai pihak yang dengan berbagai cara menguasai masyarakat, adat dan tanah Bugis. Namun, dia juga menunjukkan sikap positif saat dia menyetujui permintaan B.F. Matthes, seorang misionaris Belanda, untuk menyalin kembali dengan tulisan tangan naskah La Galigo yang tersebar di banyak lontaraq.

Hanya Colliq Pujie yang mengetahui persis alasannya mau melakukan tindakan tersebut. Namun pilihan untuk menyalin dan menjadikan epos Bugis tersebut menjadi 12 jilid untuk kemudian dibawa Matthes ke Belanda terbukti strategis. Paling tidak ada bagian La Galigo yang tetap utuh, tercatat dan menjadi bahan kajian serta dinikmati berbagai bangsa di dunia. Hanya dengan pertimbangan cerdas dan kematangan emosionallah yang membuat seseorang mampu melakukan hal rumit tersebut selama bertahun-tahun.

Kemampuan menyalin kembali dan mengedit La Galigo tentunya tidak bisa dilakukan sembarang orang. Hanya mereka yang betul-betul ahlilah yang bisa melakukannya. Colliq Pujie telah memperlihatkan diri sebagai perempuan cerdas yang mengetahui secara baik dan mendalam sastra dan budaya Bugis. Menyadur karya sastra bernilai tinggi baik yang berasal dari Bugis maupun bangsa lain seperti Melayu dan Persia juga dilakukan cucu saudagar ternama ini.

Kecerdasan Arung Pancana Toa juga menghantarkannya menciptakan huruf Bilang-bilang yang kemudian dijadikannya alat komunikasi rahasia dengan para pengikut dan sekutunya dalam upayanya menentang pendudukan Belanda di Tanah Bugis. Khusus huruf Bilang-bilang, Nurhayati berargumen bahwa surat menggunakan huruf rahasia inilah yang membuat pengikuti dan sekutunya melakukan beberapa perlawanan terhadap Belanda, terutama di Segeri dan Tanete. Bisa dihitung jari hanya segelintir orang di dunia ini yang mampu mencipta huruf, salah satunya adalah Colliq Pujie.

Masih banyak lagi kemampuan lain yang telah diperlihatkan Colliq Pujie seperti penguasaan administrasi dan keuangan pemerintahan (berdasarkan pengalaman di Kerajaan Tanete) serta kepemimpinan (menjadi Ratu di Pancana dan Lamuru). Hal lain lagi yang bisa disebutkan adalah kemampuannya menguasai bahasa (Melayu, Bugis, Makassar dan Arab). Sudah barang tentu masih banyak lagi bakat dan kemampuan yang telah ditunjukkan oleh perempuan yang bernama Melayu Retna Kencana.

Meninggalkan sebuah Warisan Bagi Dunia.

Hal ini kelihatannya yang paling banyak disorot dari seorang Colliq Pujie. Butuh 20 tahun waktu yang ia habiskan untuk menyalin naskah Lontaraq hingga menjadi 12 jilid naskah buku La Galigo yang kini tersimpan dengan sangat aman di Leiden, tanpanya dapat dipastikan naskah sastra terpanjang sepanjang masa itu pasti sudah punah termakan zaman.

Kemampuannya menyalin kembali sekaligus mengedit La Galigo telah menjadikannya sebagai intelektual dan sastrawan yang menjadikan epos Bugis tersebut bisa dibaca dan dipelajari siapa saja. Perempuan ini mampu menjadikan La Galigo tidak lagi hanya menjadi milik orang Bugis semata atau bangsa Indonesia saja, tapi menjadi milik dunia. Jika dulu bangsa-bangsa Eropa datang dan menduduki tanah Bugis, maka dengan La Galigo, Bugis-lah yang ”menguasai dunia” dengan caranya sendiri.

Warisan sastra tersebut tidak hanya melintasi ruang, tapi juga waktu. Berbagai negara telah menikmati pertunjukan teatrikal La Galigo, padahal sang penulis ulang dan editornya telah terbaring tenang di alam keabadian lebih dari satu abad yang lalu di Tucae. Melalui banyak kajian tentang naskah tersebut ditambah dengan beberapa pertunjukan di berbagai negara, tidaklah berlebihan jika dikatakan bahwa La Galigo telah menjadi salah satu pengharum nama Indonesia di tingkat internasional. Tentunya, semua ini tidak akan terjadi tanpa campur tangan dan keputusan Colliq Pujie untuk mau menuliskan ulang dan mengedit La Galigo lebih dari seratus tahun yang lampau.

Indonesia memiliki beberapa Pahlawan Nasional Perempuan sebagai penggerak perjuangan fisik dan pemikir ulung, salah satunya Tjoet Nyak Dhien (1848-1908) yang secara berani memporakporandakan Belanda dalam Perang Aceh, perempuan ini maju memimpin pertempuran. Kita juga memiliki RA Kartini (1879-1904) yang bersemangat membebaskan diri dari belenggu keterkungkungan perempuan Jawa di masanya dengan melakukan pembebasan pikiran yang tertuang melalui surat-suratnya.

Namun, entah di sengaja atau tidak, ada sisi yang ingin ditonjolkan secara terpisah di sini tentang sosok perempuan sebagai pahlawan di Indonesia. Bisa jadi mereka dipandang luar biasa karena berjuang secara fisik atau karena dianggap sebagai pemikir yang melahirkan sesuatu yang luar biasa. Tetapi, saat mengenal, walaupun masih sangat awal, Colliq Pujie, yang lahir lebih dahulu dari kedua tokoh tersebut (ada nuansa berbeda yang kita ditemui).

Di Tanah Bugis, Colliq Pujie menjadi salah satu penentang kekuasaan Belanda. Anaknya sendiripun yang menjadi perpanjangan tangan Belanda, tanpa kompromis ditentang oleh perempuan pemberani ini. Oleh Nurhayati Rahman, dia disebut sebagai aktor perlawanan rakyat. Belanda begitu mengkhawatirkan kemampuan dan kharisma Colliq Pujie dalam mempengaruhi dan mengorganisir sekutu dan pengikutnya untuk melakukan perlawanan, karena alasan politis, Colliq Pujie dikucilkan oleh Belanda selama 10 tahun dengan hanya mendapat tunjangan seadanya.

Sisi lain dari seorang Colliq Pujie adalah kemampuan intelektual dan emosionalnya (seperti telah diuraikan di atas) yang dalam banyak hal terbukti luar biasa, baik dalam bidang ilmu pemerintahan, sejarah, sastra maupun budaya. Karya-karyanya sampai saat ini masih menjadi bukti nyata abadi akan kemampuannya tersebut.

Jadi, Colliq Pujie telah mampu memadukan dua kekuatan menjadi satu. Layaknya dua sisi mata uang koin, dalam diri seorang Colliq Pujie dapat kita temui semangat juang Tjoet Nyak Dhien dan para pejuang perempuan lain seakan bertemu dengan kekuatan intelektual Kartini, Dewi Sartika dan lainnya. Semuanya tidak terpisahkan dan saling melengkapi. Apa yang ditemui dalam diri Colliq Pujie ini bisa menjadi satu cara pandang baru di Indonesia dalam melihat ketokohan dan kepahlawanan perempuan.

Mengingat begitu banyaknya kekuatan dan keunikan yang dimiliki Colliq Pujie, layaklah memang seperti yang disebut oleh beberapa ahli seperti Ian Caldwell, bahwa perempuan perkasa ini adalah milik dunia. Jika dunia saja mengakui ketokohan Colliq Pujie, kenapa kita sebagai Bangsa Indonesia tidak membanggakannya ?

Sumber : Swary Utami Dewi, Lontara Project dan berbagai sumber lainnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar Anda
Silahkan isi nama Anda disini

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.