- iklan -
XRC TIre

English

Sunda Kelapa, Cikal Bakal Jakarta

sahabatkotatua.id. Pelabuhan Sunda Kelapa merupakan salah satu pelabuhan tertua yang ada di Indonesia dan merupakan cikal bakal terbentuknya Jakarta, sehingga layak disebut sebagai Ibu yang melahirkan Jakarta (MOTHER of JAKARTA).

Konon Pelabuhan ini sudah ada sejak abad ke-5 dan merupakan pelabuhan yang berada dibawah kepemilikan Kerajaan Tarumanegara. Namun pada abad ke-12 berpindah tangan menjadi milik Kerajaan Hindu Sunda Pajajaran. Dibawah kekuasaan Kerajaan Hindu Sunda Pajajaran pelabuhan ini, berhasil berkembang menjadi salah satu pelabuhan penting yang ada di pulau Jawa, mengingat lokasinya yang cukup strategis dan namanya pun berubah menjadi Pelabuhan Sunda Kalapa.
Selain pedagang-pedagang dari berbagai daerah di Nusantara yang melakukan kegiatan perdagangan di pelabuhan ini, para pedagang asing dari manca negara seperti Tiongkok, Arab, India, Inggris dan Portugis pun bersandar di Pelabuhan ini, Konon Laksamana Cheng Ho dua kali berkunjung ke Pelabuhan Sunda Kalapa. Portugis bahkan membangun relasi dengan Kerajaan Hindu Sunda Pajajaran hingga diizinkan membuat kantor dagang di sekitar pelabuhan.

Kesultanan Demak yang melihat hubungan Portugis dengan Kerajaan Hindu Sunda Pajajaran sebagai sebuah ancaman, kemudian merencanakan penyerangan atas Sunda Kalapa. Pada 22 Juni 1527, pasukan gabungan Kesultanan Demak-Cirebon dibawah pimpinan Fatahillah menyerang dan berhasil menguasai Sunda Kalapa dan merubah namanya menjadi Jayakarta. Peristiwa ini kemudian ditetapkan sebagai ulang tahun Kota Jakarta.

- Iklan -
Ayam Goreng Ternate

Setelah Demak berkuasa, Belanda dibawah pimpinan Cornelis de Houtman tiba pertama kali di Pelabuhan Sunda Kalapa pada tahun 1596 dengan tujuan utama mencari rempah-rempah, mengingat pada saat itu rempah – rempah merupakan komoditas utama di Belanda karena berbagai khasiatnya seperti obat, penghangat badan, dan bahan wangi-wangian.

Pada tahun 1610 Belanda membuat perjanjian dengan Pangeran Jayawikarta atau Wijayakarta penguasa Jayakarta dan membuat suatu perjanjian. Dalam perjanjian tersebut, disebutkan bahwa Belanda diijinkan membuat gudang dan pos dagang di timur muara sungai Ciliwung, sekarang Museum Kebaharian.

Setelah perjanjian disetujui Belanda pun mendapat keuntungan yang luar biasa besar akibat perdagangan rempah-rempah yang mereka lakukan. Melihat keuntungan yang pesat, Belanda akhirnya memutuskan untuk melakukan ekspansi, Jayakarta pun jatuh ke tangan VOC dan kemudian berganti nama menjadi Batavia. Di bawah kekuasaan Belanda, Kanal Pelabuhan kemudian direnovasi menjadi 1.825 meter, dari ukuran yang semula hanya 810 meter saja.

Pelabuhan ini sempat berganti nama beberapa kali namun berdasar SK Gubernur DKI Jakarta tanggal 6 Maret 1974 nama Sunda Kelapa ditetapkan sebagai nama resmi pelabuhan ini.

Saat ini sungguh sangat disayangkan, Pelabuhan yg menjadi cikal bakal Kota Jakarta kondisinya semakin memprihatikan, pelabuhan ini juga sudah ratusan tahun menjadi rumah utama bagi armada pelayaran rakyat (Pinisi) yang menjadi daya tarik utama kunjungan wisatawan lokal dan Manca Negara. Demi menjaga kelestarian sejarah dan budaya, sudah selayaknya Pelabuhan Sunda Kelapa ditetapkan sebagai Pelabuhan Heritage.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar Anda
Silahkan isi nama Anda disini

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.