- iklan -
XRC TIre

Nasi Kebuli Luar Batang, merupakan menu wajib yang ditunggu jama’ah setelah melakukan prosesi Maulid Nabi Muhammad SAW.

Bulan Rabiul awal, bulan yang disakralkan oleh umat Islam di penjuru dunia, pasalnya di bulan ini telah dilahirkan sosok Rosul akhir zaman panutan umat Islam. Di bulan Robiul awal sudah menjadi tradisi khususnya di Nusantara, di setiap surau, masjid atau musholla selalu diadakan Maulud Nabi Muhammad SAW. Sebagai puji sukur atas lahirnya Rosul penuntun umat.

Salah satu acara Maulid paling meriah diadakan di Masjid Kramat Luar Batang. Masjid yang sudah ada sejak abad ke-17 ini melangsungkan acara Maulid semalam suntuk dari terbit fajar hingga terbenamnya sang kala. Tak ayal hal ini dilakukan lantaran banyaknya umat dari penjuru Nusantara yang ingin mengikuti prosesi acara tahunan ini sekaligus berziarah ke maqom sohibul bait Al-Habib Husain bin Abubakar Alaydrus. Di hari-hari biasa utamanya pada malam jum,at ratusan ribu umat dari pelosok Nusantara membanjiri Maqom Kramat beliau, maklumlah sosok beliu adalah pejuang sekaligus sosok ulama kharismatik yang ulet berdakwah serta memiliki karomah.

MAqom Al habaib Husain bin Abubakar Alaydrus tak pernah sepi dari pengunjung yang berziarah.

Kemeriahan Maulid Nabi terlihat jelas dihalaman masjid yang jumlahnya semakin membludak. Banyak tokoh masyarakat hingga pemerintah yang datang menghadiri prosesi Maulud Nabi di kampung bersejarah Luar Batang. Tak kalah dengan para pengunjung, para pedagang memanfaatkan momen tahunan ini untuk berdagang berbagai aksesoris muslimin dari kalender, pakaian, peci, hingga gantungan kunci.

- Iklan -
Ayam Goreng Ternate

Ada yang khas pada peringatan Maulid Nabi di Masjid Luar Batang, yakni berupa hidangan beratus-ratus nampan berisi nasi lengkap dengan lauk kambingnya, nasi ini menjadi istimewa lantaran bukan sembarang nasi, nasi ini bernama ‘Nasi Kebuli’ dibuat dengan beragam rempah yang diolah dengan minyak samin. Nasi penuh barokah ini dihidangkan selepas pembacaan Maulid Barzanzi yakni kisah tentang masa hidup Rosulullah dalam mengemban risalah Islam.

Saat kebuli dihidangkan semua tokoh agama membaur dengan masyarakat, tak ada lagi status sosial, yang membedakan hanyalah iman dan takwa. Wajar saja, kebuli juga disebut sebagai nasi pemersatu umat lantaran dalam penyajiannya disajikan dalam satu nampan yang dimakan penuh kebersamaan.

Biasanya, satu nampan besar berisi kebuli lengkap daging kambing sebesar kepalan tangan dewasa, dihidangkan untuk empat hingga enam orang, meskipun ribuan jamaah memadati area masjid hingga tumpah ruah ke lapangan namun hidangan kebuli tercukupi. “Insya Allah semua kebagian, karena ini merupakan nasi penuh berkah.” Ucap Daeng Mansur Amin salah satu tokoh masyarakat Kampung Luar Batang yang juga menjadi Pengurus Masjid Keramat Luar Batang.

Zamaah berdoa memanjatkan puji sukur di acara Maulid Nabi sebelum menikmati hidangan kebuli.

Nasi kebuli siap dihidangkan untuk para jamaah lengkap dengan kambingnya.

 

Nasi Kebuli dalam Sejarah.

Riwayat makanan bercita rasa khas memang selalu menarik untuk ditilik. Hadirnya Nasi Kebuli di Nusantara tak lepas dari kedatangan imigran Hadramaut melewati perjalanan akulturasi budaya yang panjang untuk sampai ke Nusantara, diperkirakan nasi yang lebih mirip nasi goreng ini mewarnai kancah kuliner Nusantara pada abad ke-19 dan 20.

Meskipun kebuli sudah lama menjadi makanan favorit para Habaib ini namun tetap saja memiliki perbedaan. Jika di tempat asalnya kebuli terbuat bukan dari beras, tapi dari gandum, hal ini karena memang beras di Hadramaut bukanlah makanan pokok. Yang membedakan sajian lainnya adalah nasi kebuli di masak dengan minyak samin yang khusus dipesan dari Timur Tengah, inilah mengapa melahap kebuli sebanyak-banyaknya meskipun dengan daging kamping tak perlu kuatir tanpa takut terkena kolesterol.

Di Nusantara nasi kebuli sendiri sangat sulit dicari, yah, sulit dicari lantaran tak banyak rumah makan yang menyiapkan menu masakan nasi ini, hal ini dikarenakan pembuatan nasi kebuli dibutuhkan orang yang ahli dalam meracik bumbu yang kaya akan rempah. Menurut Daeng Mansur Amin, Kuliner ini hanya tersedia secara umum jika ada perayaan besar seperti Mulid Nabi, Isra Mi’raj, Khaul Habib Husein, Akhir Dziarah, Malam Nisfu Sya’ban”.

Perlu puluhan tungku besar untuk memasak kebuli yang ditanak menggunakan kayu bakar.

 

Seperti diketahui, selain menggunakan beras dan daging kambing sebagai bahan utama, pengolahan nasi kebuli juga menggunkana belasan macam rempah-rempah seperti kayu manis, biji cengkeh, biji pala, bunga pekak, kapulaga, serai, daun jeruk, daun salam, santan, bawang putih, bawang merah, ketumbar, jintan, adas manis, kunyit, dan jahe yang menawarkan sensasi hangat di tubuh. Selain itu, bahan masakan yang tak kalah pentingnya untuk dicampurkan adalah kismis dan yoghurt yang disatukan dalam minyak samin.

Tidak tanggung-tanggung untuk melayani banyaknya umat yang hadir diperlukan puluhan tungku untuk memasak kebuli kaya rasa ini. Cara masaknyapun masih terlihat tradisional seperti menggunakan kayu sebagai bahan bakarnya, hal ini dilakukan agar makanan yang dihasilkan merata juga memiliki cita rasa. Selain itu, alat untuk mengolah makananpun terbuat dari kayu berguna untuk mengaduk campuran rempah yang sudah ditanak didalam priuk.

Inilah percampuran budaya dan kuliner di Nusantara yang sangat beragam. Akulturasi ini sudah ada sejak zaman bahuela. Sudah sepatutnya sebagai pewaris beragam budaya yang menyangkut warisan leluhur kita jaga bersama, agar generasi selanjutnya dapat menikmata keragaman budaya melalui sajian kuliner. Selamat menikmati.

0leh: Syamsudin Ilyas

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar Anda
Silahkan isi nama Anda disini

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.