Sumber foto : detik.com
- iklan -
XRC TIre

Kelenteng Hock Siu Kiong, kelenteng tertua di Siak-Riau, dibangun pada 120 tahun yang lampau, menjadi bukti keindahan perpaduan dua budaya yang sangat luar biasa. Riau yang kental dengan budaya Melayu Islam, tapi di sana budaya Tionghoa juga bisa diterima, bila anda berkunjung ke Provinsi Riau, jangan lupa mampir ke Siak, anda akan menyaksikan hal tersebut.

Alkisah pada zaman Sultan Syarif Kasim II memerintah Kesultanan Siak Sri Indrapura yang kental dengan budaya Melayu Islam, mengundang masyarakat asal Cina untuk bermukim di Siak. Sultan mengundang mereka dengan tujuan mengajarkan masyarakat Siak cara berdagang.

Kelenteng Hock Siu Kong Siak Riau, Foto : detik.com

Sebagai apresiasinya, Sultan kemudian mengizinkan para pendatang Cina untuk mendirikan Kelenteng untuk beribadah sesuai kepercayaan mereka. Sultan Syarif Kasim II memiliki orang Cina kepercayaan untuk mengatur desain istananya yang mulai dibangun tahun 1889 dan selesai dibangun sembilan tahun kemudian, yakni 1898.

“Tahun selesai dibangun Istana Siak Sri Indrapura adalah tahun dimulai pembangunan kelenteng Hock Siu Kong”

Sumber foto : detik.com

Dengan warna merah yang menyala, kelenteng ini tampak paling menonjol dibandingkan dengan bangunan lain di sekelilingnya. Kelenteng Hock Siu Kiong adalah yang tertua di Siak, yang dibangun pada tahun 1898, hal Itu tertera dari ukiran tahun yang terdapat di 2 patung singa penjaga kelenteng.

Sumber foto : detik.com
- Iklan -
Ayam Goreng Ternate

Di dalam kelenteng, patung dewa-dewi berjajar rapi. Tak lupa lilin berwarna merah dinyalakan. Di bagian dinding kanan dan kiri kelenteng dihiasi dengan lukisan naga dan burung phoenix. Sementara di bagian dinding luar kelenteng, ada lukisan tentang legenda The Eight Immortals yang sangat tersohor dalam mitologi Cina.

Sumber foto : detik.com

Hingga kini keaslian bangunan kelenteng ini masih original, masih sama seperti saat pertama kali dibangun pada tahun 1889. Kusen-kusen kayu, ukiran-ukiran, hingga meja altar persembahan masih sama saat dibangin pada 120 tahun silam.

Menurut penjaga, kelenteng ini akan selalu ramai dikunjungi oleh warga keturunan Tionghoa di Siak yang ingin bersembahyang. Apalagi saat Imlek, keramaian dan kemeriahannya bisa sampai membuat kelenteng penuh. Pada tanggal 15 setelah Imlek, alias Cap Go Meh kelenteng ini juga akan penuh. Bagi yang ingin berkunjung, alamat kelenteng ini ada di Jalan Sultan Syarif Kasim, Kampung Dalam, Siak, Riau.

Di sekitar kelenteng, juga ada China Town alias Pecinan yang mencolok dengan warna merahnya yang khas. Warga sekitar pun menyebut bangunan ini sebagai Bangunan Merah Siak. Sungguh sebuah akulturasi budaya dan potret toleransi yang patut ditiru di daerah lain di Indonesia.

China Town Siak Riau saat terbakar

Setelah Tragedi Museum Kebaharian Jakarta Utara yg dilalap sijago merah akibat korsleting listrik, Indonesia kembali berduka atas musnahnya peninggalan heritage yang sangat berharga, pada Sabtu 17 Februari 2018 jam 03.00 China Town Siak musnah terbakar yang kemungkinannya juga karena hal yang sama.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar Anda
Silahkan isi nama Anda disini

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.