Sumber : Internet
- iklan -
XRC TIre

Petaka, Kota Pusaka Nasional Siak-Riau

Sahabatkotatua.id. 
Setelah petaka Museum Kebaharian (16 Januari 2018). 29 hari kemudian Indonesia kembali kehilangan Bangunan Heritage. Kota Siak Provinsi Riau adalah salah satu Kota yang mendapatkan Predikat Kota Pusaka Nasional karena cukup banyaknya bangunan-bangunan heritage yang terdapat di kota ini, namun sangat disayangkan kita harus kembali kehilangan karena terbakarnya China Town Siak.

“Jangan pernah lengah dengan api” ungkapan yang pas untuk mencegah hal-hal yang dapat merugikan tidak hanya harta benda tapi juga nyawa manusia, api tidak pandang bulu melahap apa saja seperti rumah sederhana, bangunan mewah, tapi juga dapat menjalar ke gedung bersejarah.

Kembali dunia heritage di negri ini tercoreng oleh lemahnya pengawasan hingga kecerobohan mengundang petaka

Sumber : Yudi Prasetya (Siak)

Peristiwa kali ini terjadi pada sabtu (17/2/2018) secara tiba-tiba sekitar pukul 03.00 WIB. warga Siak dikejutkan dengan kobaran api yang  melalap dua blok kawasan tua pasar China Town. Suasana panik menyelimuti kawasan bersejarah tersebut lantaran kobaran api terjadi sesaat setelah umat Tionghoa usai merayakan tahun baru Imlek.

China Town tampak dari udara (Yudi Prasetya, Siak Riau)

Informasi yang didapat dari team Sahabat Kota Tua menyebutkan, lokasi kebakaran tersebut sangat berdekatan  dengan Istana Siak salah icon kota Siak dan hanya 20 meter dari kelenteng bersejarah Hock Siu Kong yang usianya telah mencapai 120 Tahun, beruntung dua bangunan tersebut masih dalam keadaan aman. Meskipun api dapat dijinakkan oleh pemadam kebakaran setelah pagi menjelang namun banyak bangunan heritage yang identik ber-warna merah menjadi kebanggaan masyarakat sudah rata dengan tanah.

Sumber : Yudi Prasetya (Siak)

Diketahui permukiman yang terbakar merupakan ruko yang terbuat dari kayu dengan cat warna merah seragam. Sebelum terbakarnya, kawasan ini sudah padat apalagi saat Imlek, keramaian dan kemeriahannya bisa sampai membuat kawasan bersejarah ini penuh sesak. Dari penampakannya, bangunan ruko terlihat sama tua dengan kelenteng  Hock Siu Kong yang dibangun pada tahun 1898, Uniknya, meskipun kawasan ini sering disebut sebagi kawasan China Town namun semua papan nama ruko di permukiman ini menggunakan Bahasa Indonesia dan Bahasa Arab. Melihat sejarah dan kenangannya masyarakat merasa kehilangan pasar lama yang menjadi market peradangan China Town.

Sumber : Yudi Prasetya (Siak)
- Iklan -
Ayam Goreng Ternate

Hingga kabar ini ditulis, sekitar 70 Rumah Toko (Ruko) ludes, juga menghanguskan gedung sekolah, sedihnya, sekolah itu telah berdiri sejak Kerajaan Siak masih eksis di jaman Kerajaan Siak dikepemimpinan Raja ke 12, Sultan Syaruf Kasim (SSK) II yang juga ikut hangus dilalap dijago merah.

Sumber : Yudi Prasetya (Siak)

Sedikit informasi yang didapat team Sahabat Kota Tua, Sekolah itu dahulunya merupakan sekolah warga turunan cina, dan setelah itu dijadikan Sekolah Menengah Pertama (SMP) 1 Siak. Pada zamannya Siak di Riau tak hanya kental dengan budaya Melayu Islam saja, tapi budaya Tionghoa juga ikut andil dalam perkembangan sejarah di Siak. Untuk sementara dalam penyelidikan team Labfor belum diketahui penyebab kebakaran. Sementara korban jiwa juga belum ada laporan dari pihak berwenang.

Apakah kita akan membiarkan satu persatu peninggalan heritage hilang termakan api ? jawabannya berpulang kepada  kita semua, terutama Pemerintah….

Menjaga Bersama Gedung Bersejarah.

Candrian Attahiyat, Arkeolog yang intens terhadap peninggalan sejarah di Indonesia mengungkapkan peristiwa  yang telah terjadi menjadi renungan kita bersama, “Ini Kelalaian bersama”, ungkap arkeolog yang lebih akrab disapa pak Chan ini. Beliau
Mengungkapkan bagaimana menangani bangunan cagar budaya menjadi tanda tanya besar bagi berbagai fihak yang intens terhadap bangunan bersejarah.

Peristiwa yang menyebabkan terbakarnya gedung-gedung heritage di Nusantara sudah sering kali terjadi,  sebagai contoh musibah yang terjadi pada Vihara Dharma Bhakti di bilangan Petak Sembilan Glodok yang sudah terjadi pada tiga tahun lalu, Musium Kebaharian, awal Januari lalu, kini China Town Siak, seharusnya hal ini menjadi cerminan untuk para pemerhati kota heritage agar lebih waspada terhadap bahaya api yang sulit terdeteksi keberadaannya.

Dari tiga musibah besar ini tentunya tidak sedikit kerugian yang dialami oleh bangsa ini, mengingat warisan peninggalan bersejarah tidak dapat tergantikan meskipun pemerintah dapat menghidupkan kembali tiga peninggalan heritage yang telah terbakar.

Dalam peristiwa kali ini, masyarakat berharap pemerintah membantu warga Tionghoa itu untuk membangun kembali ruko-ruko tersebut. Namun,  bangunannya juga diharapkan tidak mengubah nilai estetika pecinan, sehingga di masa depan Siak masih punya kawasan China Town yang ikonik.

Arya Abieta, pelaku pelestarian arsitektur atau PDA dan Pengurus BPPI (Badan Peletarian Pusaka Indonesia).

Diawali dengan Kebakaran Wihara Dharma Bhakti Glodok (2 Maret 2015), Museum Kebaharian (16 Januari 2018), kini China Town (17 Februari 2018) yang terlalap si jago merah, seharusnya tragedi ini semakin menyadarkan kita betapa perlunya kita tidak saja peduli pada peninggalan masa lalu, tapi juga harus bertindak, salah satunya adalah kesadaran akan kerentanan terhadap bahaya Api, selain banjir yg lebih mudah di tengarai.

Kebakaran bisa terjadi setiap saat apalagi dengan gaya hidup masa kini.

Kesadaran ini dapat diwujudkan dengan memberi informasi dan pelatihan pada masyarakat sekitar dan atau pemilik bangunan bahwa bangunan heritage mempunyai banyak keterbatasan yg memerlukan kehati-hatian, layaknya kita memberi perhatian pada orang tua kita, salah satunya pada masalah kerentanan terhadap bahaya kebakaran.

Untuk itu harus ada kepedulian terlebih bila ada potensi sumber api langsung maupun tak langsung, Pemerintah harus memberikan Pelatihan bila terjadi kebakaran.
Menyiapkan peralatan pemadam kebakaran dari yg paling tradisional dan sederhana ‘APAR’ hingga sistem pemadam kebakaran yg terintegrasi dgn kota, seperti Hidrant system.
Mari kita mulai du lingkungan kita sendiri. Bersama-sama kita ajak Pemerintah Daerah dan Pemerintah Pusat untuk memberikan perhatian dan anggaran untuk masalah pelindungan, anggaran yg kadang tak terlihat secara fisik, tetapi sangat vital.

oleh : Syamsudin Ilyas.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar Anda
Silahkan isi nama Anda disini

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.